Senin, 08 Agustus 2011


LAPORAN PENDAHULUAN
KISTA OVARIUM

1.      Pengertian.
Kista ovarium adalah kantung yang tertutup yang abnormal atau normal,berlapis jaringan epithel dan mengandung cairan atau bahan setengah padat yang terdapat di ovarium.

2.      Etiologi.
Secara pasti belum diketahui, akan tetapi adapun faktor predisposisinya:
1)      Keturunan.
2)      Wanita yang keluarga dekatnya mengidap kanker ovarium.
3)      Diet tinggi lemak.
4)      Kegemukan.
5)      Tidak pernah mengandung (hamil) paling beresiko kanker ovarium.
( Elizabeth J. Corwin, 2000: Hal. 656 )

3.      Patofisiologi.
Tumor ovarium mempunyai arti obstetri yang lebih penting. Tidak ada dalam tubuh wanita yang lebih banyak tumbuh tumor selain dari ovariu. Tumor ini dapat berupa kistik, padat, kecil besar, memberikan pengaruh hormon, bisa pula jinak dan ganas. Yang sering dijumpai adalah kista ovari, kista dermaid. Kista ovari dapat menjadi besar sekali disebut kista ovari permagna.
Pengaruh terhadap kehamilan dan persalinan:
1)      Tumor besar dapat menghambat pertumbuhan janin sehingga menyebabkan abortus, parus prematusus.
2)      Tumor yang bertangkai, karena pembesaran uterus atau pengecilan uterus setelah partus, terjadi torsi dan menyebabkan rasa nyeri, nekrosis, dan infeksi yang disebut abdomen akut.
3)      Dapat menyebabkan kelainan-kelainan letak janin.
4)      Tumor kistik dapat pecah karena trauma luar atau trauma persalinan.
5)      Tumor besar dan belokasi dibawah dapat menghalangi persalinan.
4.      Tanda Dan Gejala.
Bila mencapai ukuran yang cukup besar, kista tersebut dapat memberikan rasa penuh dan tidak enak pada daerah yang dikenai. Seperti pada semua tumor, ovari dapat menyebabkan torsi ( terpelincir ). Kadang-kadang walaupun jarang dapat terjadi ovarium secara spontan, dengan disertai tanda-tanda pendarahan intra abdominal sehingga gambaran klinisnya dapat menyerupai suatu kehamilan ektopik yang terganggu. Yang paling sering terjadi ialah cairan kista tersebut mengalami reborsi secara spontan setelah satu atau dua siklus.

5.      Pemeriksaan Penunjang.
1)      Pap Smear.
2)      Pemeriksaan USG.
3)      Biopsi.
4)      Tes kimi skrining, misalnya: elektrolit ( natrium, kalium, kalsium ), tes ginjal         ( BUN / cc ) , tes hepar ( bilirubin, AST / SGOT alkalin fosfat, LDH ), tes tulang ( alkalin fosfat, kalsium ).
5)      Sinar x dada, menyelidiki penyakit paru metastatik atau primer.

6.      Penatalaksanaan Medis.
1)      Pembedahan dengan atau tanpa kemoterapi adalah pengobatan pilihan bagi semua kanker saluran reproduksi.
2)      Bedah laser atau bedah beku ( Cryosurgery ) dapat diterapkan untuk kanker vagina atau serviks.

7.      Diagnosa Dan Intervensi Keperawatan.
1)      Gangguan rasa nyaman; nyeri b.d luka bekas operasi.
Intervensi:
        Kaji penyebab nyeri dan skala nyeri.
        Monitor tanda-tanda vital.
        Ajarkan tehnik relaksasi.
        Atur posisi senyaman mungkin

2)      Keterbatasan aktifitas b.d nyeri post op.
        Kaji kekuatan otot.
        Bantu pasien beraktifitas.
        Latih pasien beraktifitas.


KEPUSTAKAAN

Doengoes, Marylinn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta; EGC.
Mansjoer, Arif.1999. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3. Jakarta; Media Aesculapius. FKUI
Mohtar Rustam. 1999. Sinopsis Obstetris, Obstetri Fisiologis, Obstetri Patologi Edisi 2. Jakarta; EGC.
Prawirto Hardjo, Sarwono. 1997. Ilmu Kandungan Edisi 2. Jakarta; Yayasan Bina Pustaka.

KEP SINDROMA NEFROTIK


A. PENGERTIAN

Merupakan suatu kondisi dimana terjadi perubahan fungsi ginjal yang bercirikn hipoproteinemia, oedema, hiperlipidemia, proteinuri, ascites dan penurunan keluaran urine.

B. TANDA DAN GEJALA
Sebagai sebuah sindroma (kumpulan gejala), tanda / gejala penyakit sindroma nefrotik meliputi :
- Proteinuria
- Hipoalbuminemia
- Hiperkolesterolemia/hiperlipidemia
- Oedema
Beberapa gejala yang mungkin muncul antara lain hematuria, azotemia dan hipertensi ringan. Proteinuria (85-95%) terjadi sejumlah 10 –15 gram/hari (dalam pemeriksaan Esbach) . Selama terjadi oedema biasanya BJ Urine meningkat. Mungkin juga terjadi penurunan faktor IX, Laju endap darah meningkat dan rendahnya kadar kalsium serta hiperglikemia.

C. ETIOLOGI
Penyebab umum penyakit tidak diketahui; akhir-akhir ini sering dianggap sebagi suatu bentuk penyakit autoimun. Jadi merupakan reaksi antigen-antibodi. Umumnya dibagi menjadi 4 kelompok :
1. Sindroma nefrotik bawaan
2. Sindroma nefrotik sekunder
3. Sindroma nefrotik idiopati
4. Glumerulosklerosis fokal segmental

D. PATOFISIOLOGI
Penyakit nefrotik sindoma biasanya menyerang pada anak-anak pra sekolah. Hingga saat sebab pasti penyakit tidak ditemukan, tetapi berdasarkan klinis dan onset gejala yang muncul dapat terbagi menjadi sindroma nefrotik bawaan yang biasanya jarang terjadi; Bentuk idiopati yang tidak jelas penyebabnya maupun sekunder dari penyakit lainnya yang dapat ditentukan faktor predisposisinya; seperti pada penyakit malaria kuartana, Lupus Eritematous Diseminata, Purpura Anafilaktoid, Grumeluronefritis (akut/kronis) atau sebagai reaksi terhadap hipersensitifitas (terhadap obat)
Nefrotik sindroma idiopatik yang sering juga disebut Minimal Change Nefrotic Syndrome (MCNS) merupakan bentuk penyakit yang paling umum (90%).
Patogenesis penyakit ini tidak diketahui, tetapi adanya perubahan pada membran glumerolus menyebabkan peningkatan permeabilitas, yang memungkinkan protein (terutama albumin) keluar melalui urine (albuminuria). Perpindahan protein keluar sistem vaskular menyebabkan cairan plasma pindh ke ruang interstitisel, yang menghasilkan oedema dan hipovolemia. Penurunan volume vaskuler menstimulasi sistem renin angiotensin, yang memungkinkan sekresi aldosteron dan hormon antidiuretik (ADH). Aldosteron merangsang peninkatan reabsorbsi tubulus distal terhadap Natrium dan Air, yang menyebabkan bertambahnya oedema. Hiperlipidemia dapat terjadi karena lipoprotein memiliki molekul yang lebih berat dibandingkan albumin sehingga tidak akan hilang dalam urine.

E. PENATALAKSANAAN
Istirahat sampai oedema tinggal sedikit
Makanan tinggi protein 3-4g/kgBB/hari, makanan rendah garam
Mencegah infeksi
Pemberian diuretikum

F. RENCANA KEPERAWATAN
1. Ketidakseimbangan Volume Cairan : Penurunan (intravaskular) dan Berlebih (ekstravaskular) berhubungan dengan kehilangan protein sekunder terhadap peningkatan premeabilitas glumerolus.

Tujuan :
Terjadi pemenuhan kebutuhan cairan intravaskular dan ekstravaskular yang adekuat yang ditandai dengan :
- Penurunan oedema, ascites.
- Kadar protein darah meningkat/cukup
- Berat badan kembali dalam batas normal
- Output urine adekuat (450 – 900 cc/hr)
- Tekanan darah dalam batas normal (D < 54 S > 90)
Intervensi Rasional
1. Catat intake dan output secara akurat

2. Kaji dan catat TD, Pembesaran abdomen, BJ Urine, nilai laboratorik setiap 4 jam.

3. Timbang BB tiap hari dalam skala yang sama

4. Pegang daerah oedema secara hati-hati, laki-laki mungkin perlu menggunakan penyangga scrotum
5. Berikan steroid (prednison) sesuai jadwal. Kaji efektifitas dan efek samping (retensi Natrium, Kehilangan Potasium)

6. Sesuai indikasi, berikan diuretik dan antasid (untuk mencegah perdarahan GI akibat terapi steroid) 1. Evaluasi harian keberhasilan terapi dan dasar penentuan tindakan
2. TD dan BJ Urine dapat menjadi indikator regimen terapi


3. Estimasi penurunan oedema tubuh


4. Mengurangi cidera yang mungkin timbul, mengurangi oedema

5. Peningkatan ekses cairan tubuh




6. Pengurangan cairan ekstravaskuler sangat diperlukan dalam mengurangi oedema

2. Perubahan Nutrisi : Kurang dari Kebutuhan berhubungan dengan malnutrisi sekunder terhadap kehilangan protein dan penurunan nafsu makan.

Tujuan : Kebutuhan Nutrisi tubuh terpenuhi
Kriteria :
- Kembalinya nafsu makan
- Tidak terjadi hipoproteinemia
- Absorbsi kalori dalam jumlah adekuat
Intervensi Rasional
1. Catat intake dan output makanan secara akurat

2. Kaji adanya tanda-tanda perubahan nutrisi : Anoreksi, Letargi, hipoproteinemia, diare


3. Pastikan anak mendapatkan makanan dengan diet yang cukup. Program anak untuk mempertahankan tingkat energi tubuh 1. Monitoring asupan nutrisi bagi tubuh

2. Gangguan nutrisi dapat terjadi secara berlahan. Diare sebagai reaksi oedema intestine dapat memperburuk status nutrisi

3. Mencegah status nutrisi menjadi lebih buruk



DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall. (1999). Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan Edisi 6; EGC. Jakarta.

Doengoes, Marylin E. (1989) Nursing Care Plans. F.A Davis Company. Philadelphia.
 

KEHAMILAN GANDA


1. DEFINISI

Kehamilan ganda atau kehamilan kembar adalah kehamilan dengan dua janin atau lebih. Sejak ditemukannya obat-obat dan cara induksi ovulasi maka dari laporan-laporan dari seluruh pelosok dunia, frekuensi kehamilan kembar condong meningkat. Bahkan sekarang telah ada hamil kembar lebih dari 6 janin.

2. ETIOLOGI
l) Faktor-faktor yang mempengaruhi adalah: bangs4 umur dan paritas, sering mempengaruhi kehamilan kembar 2 telur.
2) Factor obat-obat konduksi ovulasi: profertil, clomid, dan hormone gonadotropin dapat menyebabkan kehamilan dizigotik dan kembar lebih dari 2.
3) Factor keturunan.
4) Factor yang lain belum diketahui.

3. FREKUENSI
Frekuensi menurut hukum Hellin antara kehamilan ganda dan tunggal adalah:
o Gemelly (2) 1:89
o Triplet (3) 1:89²
o Quadruplet (4) 1:89³
o Quintuplet (5) 1:89
o Sextuplet (6) 1:89

Menurut penelitian Gruelich (1930) pada 121 juta persalinan memperoleh angka kejadian kehamilan ganda yaitu gemelly 1:85, triplet 1:7,629, quadruplet 1:670,743 dan quintuplet 1:4 I.600.000.
Bangsa mempengaruhi kehamilan ganda, di Amerika serikat lebih banyak dijumpai pada wanita Negro dibandingkan kulit putih. Angka tertinggi kehamilan ganda adalah dijumpai di Finlandia dan terendah di Jepang.
Factor umum; makin tua umur makin tinggi angla kejadian kehamilan kembar dan menurun lagi setelah umur 40 tahun.
Paritas; pada primipara 9,8 per 1000 dan pada multi para (oktipara) naik
jadi 18,9 per 1000 persalinan.
Keturunan ; keluarga tertentu akan cenderung melahirkan anak kembar
Yang biasanya diturunkan secara paternal, namun dapat pula secara maternal.

JENIS GEMELLI
1) Gemelli dizigotik(kembar 2 telur), heterolog, biovuler dan futernal, kedua telur bisa berasal dari :
a) 1 ovarium dan dari 2 folikel de graft
b) 1 ovarium dan dari 1 folikel de graft
c) 1 ovarium kanan dan satu lagi dari ovarium kiri
2) Gemelli monozigotik (kembar I telur), homotog, uniovuler, identik dapat terjadi karena:
a) Satu telur dengan 2 inti, hambatan pada tingkat blastula
b) Hambatan setelah amnion dibentuk, tetapi sebelum primitive steak
3) Coryoined fwins, super fekundasi dan superficial
conjoined twins atau kembar siam adalah kembar dimana janin melengket
satu dengan yang lainnya. Misalnya torakopagus (dada dengan dada), abdominopagus (perlengketan kedua abdomen), kraniopagus (kedua kepala) dan sebagainya. Banyak kembar
siam telah dapat dipisahkan secara operatif dengan berhasil.
Superfukundasi adalah pembuahan dua telur yang dikeluarkan pada ovulasi
yang sama pada dua kali koiy\tus yang dilakukan pada jarak waktu yang pendek. Hal ini dilaporkan oleh Archer (1990) seorang wanita kulit putih yang melakukan koitus berturut-turut dengan seorang kulit putih dan kemudian dengan pria Negro melahirkan bayi kembar : satu bayi putih dan satu bayi Negro (mulatto).
Superfetasi adalah kehamilan kedua yang terjadi beberapa minggu atau bulan
setelah kehamilan pertama. Belum pernah dibuktikan pada manusia namun dapat ditemukan pada kuda.
Pertumbuhan Janin Kembar
a. berat badan satu janin kehamilan kembar rata-rata 1000gr lebih ringan
dari janin tunggal.
b. berat badan baru lahir biasanya pada kembar dua di bawah 2500 gr, triplet
di bawah 2000 gr, quadriplet di bawah 1500 gr dan quintuplet di bawah I 000 gr.
c. berat badan masing-masin janin dari kehamilan kembar tidak sama umumnya
berselisih antara 50 sampai 1000gr, karena pembagian sirkulasi darah tidak sama maka yang satu kurang bertumbuh dari yang lainnya.
d. pada kehamilan ganda monozigotik:
o Pembuluh darah janin yang satu beranastomosis dengan janin yang
lain, karena itu setelah bayi satu lahir tali pusat harus diikat untuk menghindari perdarahan
o Karena itu janin yang satu dapat terganggu pertumbuhannya dan menjadi
monstrum seperti akardiakus dan kelainan lainnya.
o Dapat terjadi sindroma transfuse fetal: pada janin yang dapat darah lebih banyak terjadi: hidramnion, polisitemia, edema dan pertumbuhan yang baik. Sedangkan
janin kedua kurang pertumbuhan nya terjadilah: kecil, anemia, dehidrasi, oligohidramni dan mikrokardia.
e. pada kehamilan kembar dizigotik
o Dapat terjadi satu janin meninggal dan yang satu tumbuh sampai cukup bulan.
o Janin yang mati bisa diresorbsi (kalau pada kehamilan muda) atau pada kehamilan agak tuajanin jadi gepeng disebut fetus papyraseus atau kompresus.
Letak Pada Presentasi lanin
Pada kehamilan kembar sering terjadi kesalahan presentasi dan posisi kedua janin. Begitu pula letak janin kedua dapat berubah setelah janin pertama lahir, misalnya dari letak lintang berubah menjadi letak sungsang atau letak kepala. Berbagai kombinasi letak, presentasi dan posisi bisa terjadi ; yang paling sering dijumpai adalah:
l. Kedua janin dalam letak membujur,presentasi kepala;( 44-47%)
2. Letak membujur,presentasi kepala bokong( 37-38%)
3. Keduanya presentasi bokong( 8-10%)
4. Letak lintang dan presentasi kepala( 5-5,3%)
5. Letak lintang dan presentasi bokong( 1,5-2%)
6. Dua-duanya letak lintang( 0,2-0,60/o)
7. Letak dan presentasi 69 adalah letak yang berbahaya, karena dapat terjadi
"kunci-mengunci" (interlocking)
Diagnosis Kehamilan Kembar
l. Anamnesa;
a. Perut lebih buncit dari semestinya tua kehamilan.
b. Gerakan janin lebih banyak dirasakan ibu hamil.
c. Uterus terasa lebih cepat membesar.
d. Pernah hamil kembar atau ada sejarah keturunan.
2. Inspeksi dan palpasi
a. Pada pemeriksaan pertama dan ulang pada kesan uterus lebih besar dan cepat tumbuhnya dari biasa
b. Teraba gerakan-gerakan janin lebih banyak
c. Banyak bagian-bagian kecil teraba
d. Teraba tiga bagian besar janin
e. Teraba 2 balotemen
3. Auskultasi
Terdengar dua denyut jantung janin pada 2 tempat yang agak berjauhan dengan perbedaan kecepatan sedikitnya l0 denyut per menit atau sama-sama dihitung dan berselisih 10.
4. Rontgen foto abdomen : keliatan 2 janin.
5. Ultrasonografi : kelihatan 2 janin, dua jantung yang berdenyut telah dapat ditentukan pada triwulan
I.
6. Elektrokardiogram fetal : diperoleh dua EKG yang berbeda dari kedua janin.
7. Reaksi kehamilan : Karena pada hamil kembar umumnya plasenta besar atau ada dua plasenta" maka produksi HCG akan tinggi; jadi reaksi kehamilan titrasi bisa positif kadang-kadang sampai 1/200. Hal ini dapat meragukan dengan molahidatidosa.

Kadang kala diagnosa baru diketahui setelah bayi pertama lahir, uterus masih besar dan ternyata ada satu janin lagi dalam rahim. Kehamilan kembar sering bersamaan dengan hidramnion dan toksemia gravidarum.
Pengaruh Terhadap Ibu dan janin
Terhadap ibu:
a. Kebutuhan akan zat-zat bertambah sehingga dapat menyebabkan anemia dan defi siensi zat-zat lainnya.
b. Frekuensi hidramnion bertambah 10 kali lebih besar.
c. Frekuensi pre-eklamsi dan eklamsi lebih sering.
d. Karena uterus yang besar, wanita mengeluh: sesak nafas, sering miksi, edema dan varises pada tungkai dan vulva.
e. Dapat terjadi: inersia uteri, perdarahan postpartum dan solusio plasenta dan sesudah anak pertama lahir.
Terhadap janin:
o Usia kehamilam tambah pendek dengan jumlah janin pada kehamilan kembar : 25% pada gemelli, 50% pada triplet dan 75% pada quadruplet akan lahir 4 minggu sebelum cukup bulan. Jadi bayi premature akan tinggi.
o Bila sesudah bayi pertama lahir terjadi solusio plasentae, angka kematian bayi kedua tinggi.
o Sering terjadi kesalahan letak janin, yang juga akan mempertinngi angka kematian janin.
Penanganan dalam Kehamilan
1. Prenatal yang baik untuk mengenal kehamilan kembar dan mencegah komplikasi yang timbul, dan bila diagnosa telah ditegakkan periksa akan lebih sering (1kali seminggu pada kehamilan 32 minggu ke atas).
2. Setelah kehamilan 30 minggu, koitus dan perjalanan jauh dilarang, karena akan merangsang partus premafurus.
3. Pemakaian gurita korset yang tidak terlalu ketat dibolehkan, supaya terasa lebih ringan.
4. Pemeriksaan darah lengkap.
Penanganan dalam Persalinan
1. Bila anak satu letaknya membujur, kala satu diawasi seperti biasa ditolong seperti biasa dengan episiotomi mediolateralis.
2. Setelah itu baru waspada, lakukan periksa luar, periksa dalam untuk menentukan
Keadaan janin II. Tunggu, sambil memeriksa tekanan darah itu dan lain-lain.
~ Biasanya dalam 10-15 menit his akan kuat lagi. Bila janin II letaknya
membujur, ketuban dipecahkan pelan-pelan supaya air ketuban tidak deras mengalir keluar.Tunggu dan pimpinan persalinan anak II seperti biasa.
~ Awas akan kemungkinan terjadinya perdarahan post partum, maka sebaiknya
dipasang infuse profilaksis.
~ Bila ada kelainan letak anak II, melintang atau terjadi prolaps tali pusat dan
solusio plasentae, maka janin dilahirkan dengan cara operatif obstetric;
a. Pada letak lintang coba versi luar dulu.
b. Atau lahirkan dengan cara versi dan ekstrasi.
c. Pada letak kepala persalinan dipercepat dengan ekshasi vakum atau forseps.
d. Pada letak bokong atau kaki; ekstraksi bokong atau kaki.
~ Indikasi section caecarea hanya pada;
a. Janin I letak lintang.
b. Terjadi prolaps tali pusat.
c. Plasenta praevia.
d. Terjadi interlocking pada letak kedua janin 69; anak satu letak sungsang dan anak II letak kepala.
5. Kala IV diawasi terhadap kemungkinan terjadinya perdarahan postpartum; berikan suntikan sinto-metrin yaitu l0 satuan sintosinon tambah 0,2 mg methergin intravena.
Prognosis
Prognosis untuk ibu lebih jelek bila dibandingkan dengan kehamilan tunggal, karena seringnya terjadi toksemi gravidarum, hidramnion, anemia pertolongan obstetric operatif dan perdarahan post partum.
Kematian perinatal tinggi terutama karena premature, prolaps tali pusat soluiso tali pusat.

Kehamilan Supriae
Kehamilan supriae atau kehamilan palsu atau pseudocysis adalah keadaan dimana seorang wanita merasa dirinya benar-benar hamil, tetapi sebenarnya dia sama sekali tidak hamil. Keadaan ini sering dijumpai pada wanita yang mandul dan sangat ingin sekali punya anak. Sebagai akibat kelainan rasa kejiwaannya maka timbullah gejala-gejala seperti wanita hamil; mual muntah, amenorea, perut membesar atau dibesar-besarkan, bahkan ada yang sampai merasakan gerakan-gerakan janinnya. Pernah dilaporkan seorang wanita datang ke rumah sakit untuk melahirkan bayi yang dikandungnya dan ibu ini dikirim bidan untuk bersalin. Setelah diperiksa untuk diteliti, ternyata bahwa wanita ini tidak hamil; uterus besar biasa dan tanda-tanda kehamilan lainnya tidak ada. Setelah diberitahukan yang sebenarnya barulah ibu ini insyaf bahwa dia tidak hamil.

Daftar Pustaka

Cunninghamm, F. Garry. 2005. Obstetri Williom. Jakarta: EGC

Mochtar, Rustam. 1990. Sinopsis Obstetri. Jakarta: EGC

Oxorn, Harry. L990. ILMU KEBIDANAN, Fisiologi don patologi persalinan.
Jakarta: Yayasan Essentia Medica

wiknjosastro, Hanifa. 1992. Ilmu kebidanan.Jakarta: Yayasan Bina pustaka 

LAPORAN PENDAHULUAN INFEKSI PADA SISTEM REFRODUKSI ( KANDIDIASIS )



 I.             PENGERTIAN.
         Kandidiasis adalah penyakit jamur yang bersifat akut atau sub akut, disebabkan oleh spesies kandida, biasanya spesies kandida albicans dan dapat mengenai mulut, vagina, kulit, kuku, bronkhi paru, kadang dapat  menyebabkan septikemia, endokarditis atau meningitis.

II.     ETIOLOGI.
         Yang tersering sebagai penyebab candida albicans  yang dapat diisolasi dari kulit., mulut, selaput mukosa vagina dan  feces orang normal.
Beberapa faktor predisposisi, seperti :
a.       Kehamilan.
b.      Obesitas.
c.       Diabetes Melitus.
d.      Pemakaian antibiotik, antiseptik atau kortikosteroid yang lama.
e.       Penyakit kronis ( TBC, tumor ganas ).
f.       Kurang gizi.
g.      Kulit kotor, lembab dan basah.

III.    TANDA & GEJALA.
         Keluhan utama ialah gatal  dan perih di daerah vulva. Pada yang berat terdapat pula rasa panas, nyeri sesudah  BAK, dan dispanuria. Pada pemeriksaan yang ringan tampak hiperemia di labia minora, introitus vagina, dan vagina terutama ½ bagian bawah.
         Terdapat pula kelainan yang khas yaitu bercak-bercak putih kekuningan, pada kelainan yang berat juga terdapat edema pada labiya minora dan ulkus-ulkus  dangkal pada labiya minora dan sekitar introitus vagina.
         Flour albus pada kandidiasis vagina berwarna kekuningan. Tanda yang khas ialah disertai gumpalan-gumpalan sebagai kepala susu berwarna putih kekuningan.

IV.    PATOFISIOLOGI.
         Infeksi candidiasis dapat terjadi  apabila ada faktor predisposisi baik endogen maupun eksogen :
Æ  Faktor  endogen :
1.      Perubahan  fisiologik.
a.   Kehamilan, karena perubahan Ph dalam vagina.
b.   Kegemukan, karena banyak keringat.
c.   Debilitas.
d.   Endokrinopati, gangguangula darah kulit.
e.   Penyakit kronik ; TBC, Lupus eritematosus dengan keadaan umum yang buruk.
                  2.   Umur, orang tua dan bayi lebih mudah terkena infeksi karena status imunologik tidak sempurna.
                  3.   Imunologik. Penyakit genetik.

Æ   Faktor eksogen.
1.   Iklim, panas & kelembaban menyebabkan perspirasi meningkat.
2.      kebersihan kulit.
3.      Kebiasaan merendam kaki dalam air yang terlalu lama menimbulkan maserasi dan memudahkan kontak dengan jamur.
4.      Kontak dengan penderita, misalnyapada thrush atau balanopostitis.



V.     PEMERIKSAAN PENUNJANG.
1.      Pemeriksaan langsung.
Kerokan kulit atau asupan mukokutan diperiksa dengan larutan KOH 10 % atau dengan pewarnaan garam, terlihat sel ragi, glastopora atau hifa semu.
2.            Pemeriksaan biakan.
Bahan yang akan diperiksa ditanam dalam agar dextrose glukosa subourand, dapat pula agar ini dibubuhi antibiotik ( klorampenikol ) untuk mencegah pertumbuhan bakteri. Pembenihan disimpan dalam suhu kamar  (37°), koloni tumbuh setelah 24-48 jam berupa  yeast like colony. Identifikasi  candida albicans dilakukan dengan membiakan  tumbuhan  tersebut pada commeal agar.

VI.    PENATALAKSANAAN.
1.      Menghindari atau menghilangkan faktor predisposisi.
2.            Topikal ;
a.   Larutan ungu gentian ½ - 1 % untuk selaput lendir. 1 – 2 % untuk dioleskan 2 x sehari selama 3 hari.
b.      Nistatin ;  berupa salep, krim, emulsi.
c.       Amfoferisin.
d.      Grup azol lainnya.
e.       Mikonazol. 2 % berupa krim atau bedak.
f.       Klotrimazol 1 % berupa bedak, larutan, krim.
g.      Tiokonazol, bufanazol, isokonazol.
h.      Siklopiroksolamin 1 %, berupa lautan , krim.

3.            Sistemik.
a.   Tablet nistin untuk menghilangkan infeksi fokal dalam saluran cerna. obat ini tidak diserap oleh usus.
b.      Untuk kandidias vaginalis diberikan kotrimoksazol 500 mg pervaginam dosis tunggal, sistemiok dapat diberikan ketokonazole 2 x 200 mg selama 5 hari atau dengan flukonazole 150 mg dosis tunggal.
c.       Itrakonazole, bila dipakai untuk kandidias volvovaginalis dosis 2 x 100 mg sehari , selama 3 hari.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KASUS
KANDIDIASIS VAGINALIS.


A.          DATA DASAR PENGKAJIAN
1.            AKTIVITAS / ISTIRAHAT.
Gejala        :     Perubahan pola tidur.
Tanda        :     Tidur kurang, mata tampak mengantuk, skelra berwarna putih kemerahan, garis hitam dibawah mata.

2.            SIRKULASI.
Tanda        :     Pembentukan edema, kemerahan pada kulit yang terinfeksi, ulkus yang dangkal.

3.            ELIMINASI.
Tanda        :     Nyeri setelah BAK.

4.            INTEGRITAS EGO.
Gejala        :     Perasaan cemas dan  takut. Putus asa dan tidak  berdaya.
Tanda        :     Ancietas, murung, menarik diri.

5.            MAKANAN / CAIRAN.
Gejala        :     ·    Ketidakmampuan  mengkonsumsi makanan secara adekuat. Anorexia.
·         Makan yang banyak.
         Tanda        :     ·    Kurus, penurunan berat badan.
·         Turgor kulit buruk.
·         Terlalu gemuk / kegemukan.

6.            NYERI / KETIDAKNYAMANAN.
Gejala        :     ·    Gatal – gatal didaerah yangterinfeksi.
·         Terasa panas dan nyeri sesudah BAK.
                          
7.            KEAMANAN.
Gejala        :     ·    Riwayat defisiensi imun.
·         Kulit lecet / kemerahan.
·         Lesi kulit / ulkus pada kulit.
·         Riwayat berulangnya  infeksi jamur.

8.      HYGIENE.
         Tanda        :     ·    Memperlihatkan penampilan yang tidak rapi.
·         Kurangnya perawatan diri.
·         Bau badan.

9.      INTOLERANSI SOSIAL.
         Tanda        :     ·    Kerusakan  interaksi dengan keluarga ; isolasi.
·         Menarik diri dari pergaulan.

10.        SEKSUALITAS.
Gejala        :     ·    Pruritus perineal.
·         Menurunnya libido, gangguan untuk melakukan aktivitas seksual.
         Tanda        :     ·    Edema labiya minora.
·         Keluarnya fluor albus.
·         Gatal dan perih didaerah vagina.
·         Kemerahan sekitar gentalia.


11.        PENYULUHAN / PEMBELAJARAN.
Gejala        :     ·    Sering bertanya tentang keadaannya.
·         Kegagalan untuk mengikuti perawatan.
·         Kurangnya perawatan diri.
·         Penggunaan antibiotik, kortikostreoid yang lama.


B.           DIAGNOSA KEPERAWATAN.
1.            Ganggauan rasa nyaman ( gatal-gatal ) berhubungan dengan inferksi candida albicans, ditandai dengan  :
a       Gatal – gatal di daerah terinfeksi.
a       Kemerahan pada kulit terinfeksi.
a       Adanya ulkus / lesi yang dangkal.

2.            Ansietas berhubungan dengan ketidaktahuan, kurang terpajan informasi, ditandai dengan :
a       Sering menanyakan keadaan penyakitnya.
a       Mengutarakan perasaan cemas.
a       Kegagalan untuk mengikuti perawatan.
a       Penggunaan antibiotik, kortikosteroid yang lama.

3.            Perubahan pola tidur berhubungan dengan gatal – gatal dilipatan paha, pruritus perineal . ditandai dengan :
a       Mengutarakan tidur malam kurang karena gatal-gatal.
a       Mata tampak mengantuk.
a       Sklera berwarna putih kemerahan.
a       Garis hitam dibawah mata.

C.           RENCANA TINDAKAN.
1.            Diagnosa Keperawatan No 1.
a       Tujuan jangka panjang :
      Klien dapat mengatasi rasa gatal secara mandiri, infeksi sembuh.
a       Tujuan jangka pendek :
Rasa gatal  hilang /  berkurang.

         Intervensi Keperawatan :
         a.   (I) :     Anjurkan  klien untuk menjaga agar daerah lipat paha tetap kering.
         (R) :     Mencegah perkembangan jamur, kerena daerah yang lembab dan basah merupakan tempat yang ideal berkembang biaknya jamur candida.
   b.   (I)  :     Anjurkan untuk ganti pakaian dalam 3 – 4 jam atau setiap habis BAK.
         (R) :     Menjaga kelembaban daerah genetalia agar tidak basah atau terlalu kering.
   c.   (I)  :     Jelaskan dan dorong untuk segera mengeringkan daerah genetalia dan perineal sehabis BAB dan sebaiknya dengan tissue / lap sekali pakai.
         (R) :     Menjaga kelembaban dan tetap kering, serta mencegah infeksi berulang.
   d.   (I)  :     Berikan  antiseptik larutan Iodine Poviden 5 – 10 % 3 – 4 kali sehari.
         (R) :     Mencegah berkembangnya jamur dan mengurangi rasa gatal.
   e.   (I)  :     Anjurkan untuk mandi  2 – 3 kali sehari dengan sabun anti septik.
         (R) :     Meningkatkan perawatan diri dan mencegah berkembang biaknya jamur.
   f.    (I)  :     Kolaborasi dengan medis.
         (R) :     Untuk pemberian obat-obatan anti jamur yang sesuai.


2.            Diagnosa keperawatan No 2.
a       Tujuan jangka panjang.
Postur tubuh rileks, cemas berkurang / hilang.
a       Tujuan jangka pendek.
Klien mengetahui tentang penyakitnya serta perawatan yang diberikan.

Intervensi keperawatan :
a.   (I)  :     Kaji penyebab kecemasan klien lainnya dan koping yang berhasil dimasa lalu.
      (R) :     Dapat memberikan gambaran untuk pemecahan masalah dan rencana tindakan selanjutnya.
b.   (I)  :     Berikan informasi nyata tentang penyakitnya.
               (R) :     Memberikan pemahaman dan informasi yang nyata dapat menurunkan ketegangan dan kecemasan.
c.   (I)  :     Berikan dan dorong klien untuk bertanya.
      (R) :     Mengungkapkan ketidaktahuan klien dapat mengurangi rasa cemas.
d.   (I)  :     Berikan umpan balik yang dapat diterima / sesuai kemampuan klien.
      (R) :     Membagi perasaan dihargai terhadap klien dan mengurangi kecemasan.

3.            Diagnosa Keperawatan No 3.
a       Tujuan jangka panjang.
Pasien dapat tidur pada malam hari seperti biasanya.
a       Tujuan jangka pendek.
                        Turut berperilaku yang dapat meningkatkan kebutuhan tidur.

Intervensi Keperawatan : 
a.   (I)  :     Kaji kebutuhan tidur klien.
      (R) :     Untuk mengidentifikasi kebiasaan tidur klien dan tindakan yang diberikan.
b.   (I)  :     Anjurkan untuk mengolesi pada sekitar lipatan paha dengan Iodine poviden 5 – 10 % setiap akan tidur.
      (R) :     Dapat mengurangi rasa gatal dan memberikan rasa nyaman.
c.   (I)  :     Anjurkan untuk mengganti pakaian dalam ketika akan tidur dengan yang bersih.
      (R) :     Untuk mencegah infeksi sekunder dan memberikan rasa nyaman.
d.   (I)  :     Anjurkan dan beritahu untuk mengatur lingkungan yang terang dan nyaman untuk istirahat / tidur sesuai kesukaan klien, atau posisi yang nyaman untuk tidur sesuai kebiasaan klien.

D.          DAFTAR PUSTAKA.
1.            Adhi Djuanda, prof. Dr.1999. Ilmu Penyakit kulit & Kelamin. Jakarta.
2.            Anonim. 1992. Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas. Jakarta.
Depkes RI.
3.            Doenges, Marylinn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi III.
Jakarta. EGC        
                
 
                       
     













ASUHAN  KEPERAWATAN
PADA KLIEN DENGAN INFEKSI SISTEM REPRODUKSI
CANDIDIASIS VAGINALIS.


A.    PENGKAJIAN
I.             BIODATA.
A.           IDENTITAS PASIEN
Nama                           :     Ny. Hartina  
Umur                           :     31 th.
Jenis kelamin               :     Perempuan
Pendidikan                   :     SLTA        
Agama                         :     Islam
Suku / Bangsa              :     Banjar / Indonesia.
Status perkawinan        :     Kawin
Alamat                         :     Jl. Pendidikan  No 24 Martapura.
Tgl masuk RS / Pusk    :     11 – 2 - 2002
Tgl pengkajian             :    11 – 2 - 2002
Nomor register             :     1206
Dignosa medis             :     Candidiasis Vaginalis.


B.           IDENTITAS PENANGGUNG JAWAB / SUAMI.
Nama                           :     Tn. Indra
Umur                           :     48 th.        
Jenis kelamin               :     Laki-laki
Pendidikan                   :     SLTA
Pekerjaan                     :     Wiraswata.
Agama                         :     Islam.
Alamat                         :     Jl. Pendidikan  No 24  Martapura.


II.          RIWAYAT PENYAKIT.
A.           Keluhan utama.
Gatal – gatal pada daerah lipatan paha bagian dalam dan adanya keputihan.


B.           Riwayat penyakit sekarang.
Klien merasakan gatal – gatal sudah 8 hari yang lalu sejak tanggal 3 – 2- 2002, pada awalnya ketika banyak berkeringat sehabis membersihkan rumah, tetapi kemudian gatal – gatal jadi sangat menggangu terutama pada malam hari. Keluar keputihan yang lebih  banyak dari biasanya, berbau amis / agak asam ( seperti susu basi ) sejak 3 – 4 hari yang lalu. Klien mencoba minum ramuan tradisional ( daun sirih ) tetapi tidak sembuh. Pada tanggal 11 – 2 – 2002 klien datang berobat ke rumah sakit Banjarbaru.
 
               C.     Riwayat penyakit terdahulu.
                           Sebelumnya pasien belum pernah menderita gatal – gatal seperti ini.. Tidak pernah / tidak ada riwayat menderita penyakit kronis atau pun menular

III.       PEMERIKSAAN FISIK.
A.           Keadaan umum.
Kesadaran        :     Komposmentis      
Vital sign         ·    TD    :  110 / 80 mmhg            ·    Temp   :   37,7° C.
                        ·    Nadi  :  80 x / mt                      ·    Resp   :   28 x / mt                 
B.           Kulit.
·         Lesi (-). WKK (-),  Tanda peradangan (-).
·         Turgor kulit baik, cepat kembali < 1 detik.
·         Kelembaban kulit tampak kering.
·         Gejala Cyanosis (-).

C.           Kepala.
·         Warna rambut hitam pekat, distribusi merata.
·         Kotoran kulit kepala / ketombe (-).
·         Bentuk simetris, tidak terdapat adanya benjolan.

D.           Penglihatan.
·         Gerakan bola simetris, konjungtiva & membran mukosa pucat.
·         Refleks terhadap cahaya (+).
·         Tidak ada gangguan penglihatan ( Visus ).

E.           Penciuman  &  Hidung.
·         Bentuk hidung simetris.
·         Pernafasan cuping hidung (+).
·         Penciuman berfungsi baik, dapat membedakan aroma / bau.

               F.      Pendengaran   &  Telinga.
·         Bentuk telinga simetris dextra dan sinistra.
·         Tidak terdapat adanya sekret.
·         Pendengaran berfungsi baik, dapat bereaksi bila dipanggil.

               G.     Mulut.
·         Mukosa bibir kering, lidah merah muda/
·         Gusi berwarna merah muda.
·         Jumlah gigi lengkap, tidak terdapat adanya lubang, karang gigi / plak (-).

               H.     Leher.
·         Pulsasi vena jugularis (+) teraba kuat.
·         Tekanan vena jugularis (-).
·         Tidak ada pembatasan gerak leher.


I.             Dada / Pernafasan / Sirkulasi.
·         Bentuk simetris, Retraksi dinding dada (+).
·         Fremitus vokal dextra & sinistra simetris.
·         Bj 1 dan Bj 2 tunggal, tidak trdengar adanya bunyi nafas tambahan.


J.            Abdomen.
·         Bentuk simetris, kembung (-).
·         Nyeri tekan daerah hipogastrik kiri, tidak teraba pembesaran hati.
·         Bunyi timpany (+). Kembung (-).
·         Peningkatan bising usus (+).

K.          Sistem reproduksi.
·         Jenis kelamin perempuan, Merarche usia 13 th.
·         Pola menstruasi 1 bulan sekali dengan lama 5 – 7 hari.
·         Disminorhoe selama menstruasi (-).
·         Klien memiliki anak 2 orang.
·         Klien memakai alat kontrasepsi suntikan Depoprovera ( 3 bln sekali )

L.           Ekstremitas atas  &  bawah.
·         Akral hangat, bentuk tangan simetris dextra dan sinistra, jumlah jari lengkap. Tidak ada pembatasan gerak ekstremitas atas.
·         Bentuk kaki simetris, tidak terdapat gejala / tanda oedema. Jumlah jari lengkap. Tidak ada pembatasan gerak ekstremitas bawah.


IV.        KEBUTUHAN FISIK, PSIKOLOGIS, SOSIAL & SPIRITUAL.
A.           Aktivitas  &  Istirahat.
·         Aktivitas sehari-hari sebagai ibu rumah tangga.
·         Istirahat siang  hanya sebentar ±   1 – 1 ½ jam saja.
·         Istirahat malam sekitar 5 jam.klien mengatakn sering terbangun pada malam hari karena rasa gatal yang menyerang.

B.           Personal  hygiene.
·         Pola mandi 2 x sehari, gosok gigi 2 x sehari.
·         Sumber air bersih dari PDAM
·         Ganti baju 2 x sehari..
·         Ganti celana dalam 1 x sehari.

C.           Nutrisi.
·         Pola makan  3 x sehari, menu bervariasi, terdiri dari lauk dan pauk.
·         Minum air putih antara 6 – 7 gelas perhari.
·         Suka minum air teh & kopi pada malam hari.

D.           Eliminasi.
·         Pola BAB 1 x sehari, biasanya pada pagi hari.
·         Pola BAK 5 – 6 x sehari.
·         Tidak pernah ada keluhan / gangguan dalam pola eliminasi.

E.           Sexualitas.
·         Lamanya klien menikah ±  7 tahun.
·         Frekuensi hubungan dengan suami ( coitus ) 1 minggu sekali.
·         Klien mengatakan sebelumnya  tidak ada ganguan pada saat berhubungan, namun sejak klien mengeluh gatal – gatal ini klien menjadi risih untuk berhubungan dengan suaminya.
F.            Psikososial.
·         Pasien tampak cemas terhadap penyakitnya.

G.          Spiritual.
·         Pasien beragama Islam.
·         Pasien percaya bahwa penyakitnya dapat disembuhkan setelah berobat ke RS atas izin  dari Tuhan YME.


V.           PROSEDUR DIAGNOSTIK DAN PENGOBATAN.
A.           Laboratorium.
     

NO
HARI  & TANGGAL
JENIS PEMERIKSAAN
KATEGORI NORMAL
HASIL PEMERIKSAAN
-
-
-
-
-


B.           Rontgen
Hasil                :……………………..


C.           EKG.
Hasil                :…………………….


D.           Pemeriksaan lain ( EEG, USG, CT Scan, dll ).


               E.      Pengobatan     :

·         Nistatin Supp      2 x 1  selama 3 hari.

                                                           











v  ANALISA  DATA    



Data subyektif & Obyektif


etiologi

Masalah

Data Subyektif :
~        Klien mengeluh gatal – gatal pada lipatan paha

Data Obyektif :
~        Lipatan paha tampak kemerahan.
~        Adanya Flour Albus yang berlebihan.



Data Subyektif :
~        Klien mengatakan merasa cemas terhadap penyakitnya.
~        Klien mengatakan rasa risih terhadap suami.

Data Obyektif :
~        Klien bertanya tentang keadaan penyakitnya dan kemungkinan kesembuhannya



Data Subyektif :
~        Klien mengeluh sering terbangun pada malam hari karena adanya rasa gatal.

 

Data Obyektif :
~        Raut muka pasien terlihat terlihat tegang dan mengantuk.
~        Muka pucat, konjungtiva merah.
Infeksi candida albicans











Kurang terpajan terhadap informasi












Gatal – gatal pada lipatan paha.
Gangguan rasa nyaman












Ansiertas sedang.













Tidur kurang dari kebutuhan


INTERVENSI KEPERAWATAN


                               
NO
Hari & tanggal
Diagnosa keperawatan

Perencanaan
Implementasi

Tujuan
Tindakan
Rasionalisasi
1


























2

































3
Senin
11-2-2002

























Senin
11-2-2002
































Senin
11-2-2002

Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan infeksi candida albicans ditandai dengan :
·         Klien mengeluh gatal-gatal pada lipatan paha bagian dalam.
·         Lipatan paha tampak kemerahan.
·         Keluarnya flour albus yang berlebihan.














Ansietas sedang berhubungan dengan kurang terpajannya informasi, ditandai dengan :
·       Klien mengatakan rasa cemasnya terhadap penyakitnya.
·       Klien sering bertanya tentang keadaan penyakitnya dan kemungkinan kesembuhannya.
·       Klien mengatakan rasa risih untuk berhubungan dengan suaminya.











 


Pola tidur kurang dari kebutuhan berhubungan dengan rasa gatal dilipatan paha bagian dalam, ditandai dengan
·       Klien mengeluh  tidur malamnya hanya 5 jam saja, karena sering terbangun pada malam hari.
·       Mata tampak kemerahan.
·       Tampak kemerahan pada lipatan paha.
Jangka panjang.
Rasa gatal hilang / berkurang

Jangka pendek.
Klien dapat mengatasi rasa gatal secara mandiri


















Jangka pendek
Klien mengetahui tentang penyakit yang dideritanya

Jangka panjang
Postur tubuh rileks. Cemas berkurang / hilang.
























Jangka pendek
Pasien dapat mendiskusikan permasalahan yang dihadapinya.

Jangka panjang
Pasien dapat memecahkan masalah dengan menggunakan sumber yang efektif.

1.      Anjurkan klien agar menjaga daerah lipatan paha supaya tetap kering.



2.      Anjurkan klien agar mengganti pakaian dalam setiap 4 jam sekali atau sehabis BAK.

3.      Anjurkan  agar klien segera mengeringkan daerah genetalia sehabis BAB / BAK ( sebaiknya dengan Tissue atau lap kering )

4.      Berikan antiseptik larutan iodine poviden 5– 10 %  4 kali sehari
1.      Kaji  penyebab cemas klien yang lainnya.




2.      Berikan informasi yang nyata tentang penyakitnya.




3.      Berikan kesempatan bertanya pada pasiennya.



4.      Berikan umpan balik yang berhubungan dengan penyakitnya.







1.      Kaji kebiasaan tidur klien 




2.      Anjurkan untuk mengolesi iodine poviden 5 % setiap akan tidur pada lipatan paha.

3.      Anjurkan untuk mengganti pakaian dalam yang bersih ketika akan tidur.

4.      Anjurkan klien untuk menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman untuk istirahat / tidur sesuai kesukaan klien.


1.      Mencegah perkembangbiakan jamur karena daerah  lembab merupakan tempat yang ideal berkembangbiaknya jamur.

2.      Menjaga kelembaban daerah genetalia.




3.      Menjaga kelembaban dan tetap kering serta mencegah infeksi berulang.





4.      Mencegah berkembangnya jamur & mengurangi rasa gatal.
1.      Dapat memberikan gambaran untuk pemecahan masalah dan tindakan selanjutnya.


2.      Memberikan pemahaman dan informasi yang nyata dapat menurunkan ketegangan dan kecemasan.


3.      Memberikan kesempatan klien untuk bertanya tentang keadaan dan program perawatan.


4.      Memberikan perasaan dihargai terhadap klien dan mengurangi kecemasan.

 





1.      Untuk mengidentifikasi kebiasaan tidur klien dan tindakan yang akan diberikan.

2.      Dapat mengurangi rasa gatal dan memberikan rasa nyaman.


3.      Untuk mencegah infeksi sekunder.



4.      Memberikan situasi yang kondusif dan kondisi yang nyaman untuk istirahat dan tidur.



1.      Menganjurkan klien untuk menjaga agar daerah lipatan paha tetap kering.





2.      Menganjurkan untuk selalu mengganti pakaian dalam setiap 4 jam sekali atau setelah BAK.


3.      Menganjurkan agar klien sesegera mungkin untuk mengeringkan daerah genetalianya setelah buang air.dengan menggunakan Tissue atau lap sekali pakai saja dengan tehnik yang benar.

4.      Menganjurkan klien untuk mengoleskan antiseptik iodine poviden 5 %  4 x sehari didaerah terinfeksi
1.      Mengkaji penyebab kecemasan klien lainnya, yang dapat menambah dan  mengurangi kecemasan klien.


2.      Memberikan informasi yang nyata tentang penyakitnya yang dialami klien.




3.      Memberikan kesempatan klien untuk bertanya tentang keadaan dan program perawatan.



4.      Memberikan umpan balik yang dapat diterima klien.










1.      Mengkaji kebiasaan tidur klien sebelumnya dan faktor yang mempercepat tidur klien.


2.      Menganjurkan untuk mengolesi lipatan paha dengan iodine poviden 5 % sebelum tidur.


3.      Menganjurkan untuk mengganti pakaian dalam setiap akan tidur.


4.      Menganjurkan klien untuk mengatur lingkungan yang tenang dan nyaman untuk istirahat  / tidur seseaui kesukaan klien.
















v CATATAN  PERKEMBANGAN.


No
Hari / tanggal
No Dxn
Perkembangan
paraf
1.












2.









3.
Senin.
8-10-2001











Senin.
8-10-2001








Senin.
8-10-2001
No 1












No 2









No 3

S   :  Pasien mengatakan  rasa nyeri pada ulu hati tidak terasa lagi.

O  :  Pasien mampu beraktifitas seperti biasa tanpa ada keluhan lagi.

A  :  Tidak terjadi iritasi berlanjut.

P   : HE pasien untuk mencegah berulangnya penyakit.


S   :  Pasien mengatakan rasa mual sudah tidak terasa lagi.

O  :  BB dalam keadaan stabil  yaitu 45 kg.

A  :  Masalah teratasi.

P  :   Pertahankan keadaan umum.


S   :  Pasien menyatakan pemahamannya tentang penyakit gastritis dan pencegahannya.

O  :  Pasien mampu mendiskusikan kembali tentang gastritis.

A  :  Masalah dapat teratasi.